Recently Published
Preparing New Normal: the Health Literacy Assessment on the Covid\u002D19 Image
Journal article

Preparing New Normal: the Health Literacy Assessment on the Covid-19

Most Viewed
Beban Biaya Penyakit Demam Berdarah Dengue di Rumah Sakit dan Puskesmas Image
Journal article

Beban Biaya Penyakit Demam Berdarah Dengue di Rumah Sakit dan Puskesmas

Latar belakang: Di awal tahun 2016, Kabupaten Banjarnegara telah mengalami kejadian luar biasa DBD dengan jumlah kasus sebanyak 230 kasus hingga minggu I bulan April 2016. Peningkatan kasus DBD merupakan ancaman yang cukup besar untuk kesehatan masyarakat dan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar akibat dari biaya kesakitan Penaykit DBD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biaya yang disebabkan oleh penyakit DBD berdasarkan perspektif pasien/keluarga di Rumah Sakit dan Puskesmas Kabupaten Banjarnegara tahun 2016.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain survei prospektif. Data sekunder diperoleh dari puskesmas dan rumah sakit dan data primer melalui wawancara. Data diolah dengan software MS Excel dan dianalisis menggunakan software STATA versi 12.Hasil: Subjek dalam penelitian ini berjumlah 57 orang. Biaya langsung Rp 207.290.500 (rata-rata Rp 3.636.676). Biaya tidak langsung Rp 68.016.900 (rata-rata Rp 1.193.300). Biaya kesakitan penyakit Demam Berdarah Dengue adalah sebesar Rp.275.307.500 (rata-rata Rp.4.829.955). Biaya Kesakitan Penyakit DBD lebih tinggi pada aki-laki, kelompok >15 tahun, kelompok pekerja, lama sakit >7 hari, tidak memiliki jaminan kesehatan dan tidak menggunakan jaminan kesehatan, penggunaan fasilitas layanan kesehatan, praktik swasta dan RSUD, > 2 kali kunjungan, dan waktu tempuh >15 menit. Hasil analisis menunjukkan umur (p=0,0209), status pekerjaan (0,0389), kepemilikan jaminan kesehatan (0,0022), dan penggunaan jaminan kesehatan (p=0,0003).Kesimpulan: Biaya kesakitan penyakit Demam Berdarah Dengue adalah sebesar Rp 275.307.500, dimana 75,29% merupakan biaya langsung dan 24,71% biaya tidak langsung. Meningkatkan peran aktif semua sektor terkait dan pembagian peran yang jelas untuk masing-masing sektor sehingga pengendalian DBD menjadi terarah dan dukungan anggaran untuk upaya pencegahan dan pengendalian DBD.
Kasus Hipertensi pada Kehamilan di Indonesia Image
Journal article

Kasus Hipertensi pada Kehamilan di Indonesia

Latar Belakang: Hipertensi dalam kehamilan (HDK) merupakan kelainan vaskular yang terjadi sebelum kehamilan atau timbul dalam kehamilan atau pada masa nifas. Lebih dari 30% kematian maternal di Indonesia disebabkan oleh HDK. HDK merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal, fetal dan neonatal. Gambaran etiologi HDK masih belum jelas, sehingga kelainan ini sering dikenal the diseases of theory. Upaya dini untuk mengidentifikasi hipertensi dalam kehamilan dapat dilakukan dengan mengetahui faktor risiko hipertensi baik yang dapat diubah (modifiable) yaitu perilaku sehat & yang tidak bisa diubah (nonmodifiable) seperti faktor risiko yang melekat pada ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor risiko gangguan hipertensi dalam kehamilan di Indonesia. Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan menggunakan rancangan cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik consecutive sampling dan berasal dari 447 kabupaten dan 33 propinsi di Indonesia. Subjek penelitian adalah seluruh ibu hamil yang menjadi sampel Riskesdas tahun 2013 yang berusia 15-54 tahun dengan jumlah 9.024 ibu hamil. Chi-square dan binomial regression digunakan untuk menghitung pengaruh faktor risiko HDK dengan melihat nilai rasio prevalensi (RP). Hasil: Prevalensi hipertensi ibu hamil sebesar 6,18% (558 orang) setelah disesuaikan dengan variabel luar yang berpotensi sebagai confounder. Jumlah hipertensi paling banyak di Propinsi Jawa Barat yaitu 59 ibu hamil (10,57%). Overweight dan hipertensi kronik berhubungan terhadap gangguan hipertensi dalam kehamilan dengan RP: 2,13 (95%CI 1,80-2,51) pada overweight dan RP: 4,36 (95%CI 3,61-5,26) pada hipertensi kronik. Penggunaan alat kontrasepsi bukan merupakan faktor risikoterhadap gangguan hipertensi di Indonesia RP 0,92 (95%CI 0,76-1,10). Kesimpulan: Overweight dan hipertensi kronik merupakan faktor risiko kejadian gangguan hipertensi dalam kehamilan di Indonesia. Ibu hamil diharapkan dapat menjaga berat badan ideal yang dianjurkan pada masa gestasi dan lebih mewaspadai risiko yang dapat meningkatkan kejadian hipertensi dalam kehamilan seperti riwayat hipertensi kronik.
Suggested For You
Membudayakan Patient Safety sebagai Bentuk dari Organisasi Reform dalam Mencegah Human Err Image
Journal article

Membudayakan Patient Safety sebagai Bentuk dari Organisasi Reform dalam Mencegah Human Err

Objective: Patient safety merupakan komponen kritis dari mutu pelayanan kesehatan. Isu terkait patient safety diantaranya medical errors dan diagnostic errors. Berbagai studi melaporkan bahwa kasus diagnostic errors dan medical errors di fasilitas pelayanan kesehatan terjadi di seluruh negara, tidak terkecuali di negera berkembang seperti Indonesia. Rumah sakit sebagai organisasi pelayanan kesehatan, seharusnya menumbuhkan budaya patient safety untuk mencegah terjadinya human err yang berdampak pada medical errors dan diagnostic errors. Namun pada Kenyataannya penerapan budaya patient safety masih sangat sulit diterapkan di beberapa rumah sakit, contohnya di salah satu rumah sakit di Kota Jambi, berdasarkan studi yang dilakukan, diketahui bahwa masih terjadi human err berupa diagnostic errors yaitu kesalahan penegakan diagnosis dan medical errors yang berupa kesalahan dalam penjahitan luka. Hal ini disebabkan karena belum optimalnya penerapan budaya patient safety di rumah sakit tersebut. Medical errors seperti Kejadian yang Tidak Diinginkan (KTD) menjadi salah satu kasus yang sering terjadi. Fenomena ini seperti gunung es, dimana kasus – kasus yang serius dan mengancam jiwa secara mudah tampak di permukaan, sedangkan kasus - kasus yang sifatnya ringan sampai sedang umumnya tidak terdeteksi, tidak dicatat, ataupun tidak dilaporkan. Tujuan dari argumentatif review ini untuk mendeskripsikan pentingnya budaya patient safety dalam organisasi pelayanan kesehatan sebagai bentuk dari organisasi reform dalam mencegah human err. Lesson learned: Budaya patient safety merupakan pilar gerakan keselamatan pasien di pelayanan kesehatan. Melalui penerapan budaya patient safety diharapkan terjadi penurunan kasus medical errors dan diagnostic errors. Rumah sakit sebagai organisasi pelayanan kesehatan harus melakukan upaya reformasi atau perbaruan organisasi (organizational reform) untuk mencegah terjadinya human err. Organizational reform merupakan salah satu wujud Perubahan dengan cara menata kembali organisasi, baik struktur maupun manajemen agar efektif dalam upaya mencegah terjadinya human err. Hasil yang diharapkan dari reformasi organisasi ini berupa budaya patient safety. Membudayakan keselamatan pasien (patient safety) sangat penting, karena budaya mengandung dua komponen yaitu nilai dan keyakinan, dimana nilai mengacu pada sesuatu yang diyakini oleh anggota organisasi untuk mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, sedangkan keyakinan mengacu pada sikap tentang cara bagaimana seharusnya bekerja. Sehingga dengan adanya nilai dan keyakinan yang berkaitan dengan patient safety yang ditanamkan pada setiap anggota organisasi, maka setiap anggota akan mengetahui apa yang seharusnya dilakukan dalam penerapan keselamatan pasien, yang pada akhirnya perilaku tersebut menjadi suatu budaya yang tertanam dalam setiap anggota organisasi berupa perilaku budaya keselamatan pasien (patient safety). Ciri – ciri organisasi pelayanan kesehatan yang mampu menerapkan patient safety diantaranya ; komunikasi terbuka dan saling percaya, alur dan proses informasi yang baik, persepsi terhadap pentingnya keselamatan, memiliki kesadaran bahwa kesalahan tidak bisa sepenuhnya dihindari, mampu mengindentifikasi ancaman laten terhadap keselamata secara proaktif, melakukan pembelajaran organisasi, memiliki pemimpin yang kompeten, bertanggungjawab dan mampu untuk merancang, mengembangkan, dan memelihara budaya keselamatan dan menghilangkan budaya menyalahkan salah satu pihak serta tidak memberikan hukuman pada insiden yang dilaporkan. Conclusion: Sebuah organisasi pelayanan kesehatan harus terus melakukan Perubahan atau pembaruan yang mendukung patient safety dalam rangka menghindari terjadinya kesalahan penanganan dan perawatan yang disebabkan oleh human err. Keberhasilan pembaruan organisasi akan tercermin dari terbentuknya budaya patient safety. Sedangkan keberhasilan penerapan patient safety akan mampu mencegah atau mengurangi terjadinya human err yang berakibat pada diagnostic errors dan medical errors.
Journal article

PPM-TKP Karang Taruna Desa Sambibulu Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo Provinsi Jawa Timur

PPM\u002DTKP Karang Taruna Desa Sambibulu Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo Provinsi Jawa Timur Image
Journal article

Policy Brief: Penelusuran Ancaman Kasus TB pada Petugas Kesehatan di Indonesia

Policy Brief: Penelusuran Ancaman Kasus TB pada Petugas Kesehatan di Indonesia Image
Journal article

Kegiatan Menulis Surat “Curhat” untuk Deteksi Bullying pada Siswa Sekolah Dasar

Kegiatan Menulis Surat “Curhat” untuk Deteksi Bullying pada Siswa Sekolah Dasar Image
Read more articles