Recently Published
KUAT TEKAN PADA CAMPURAN BETON DENGAN BAKTERI YANG DIINOKULASI DAN LIMBAH BENDA UJI Image
Journal article

KUAT TEKAN PADA CAMPURAN BETON DENGAN BAKTERI YANG DIINOKULASI DAN LIMBAH BENDA UJI

COMPARATIVE STUDY OF INTEGRATED MULTICRITERIA DECISION MAKING: AHP\u002DTOPSIS VS ENTROPY\u002DTOPSIS FOR PRIORITIZING ROAD DAMAGE REPAIR Image
COMPARATIVE STUDY OF INTEGRATED MULTICRITERIA DECISION MAKING: AHP\u002DTOPSIS VS ENTROPY\u002DTOPSIS FOR PRIORITIZING ROAD DAMAGE REPAIR Image

COMPARATIVE STUDY OF INTEGRATED MULTICRITERIA DECISION MAKING: AHP-TOPSIS VS ENTROPY-TOPSIS FOR PRIORITIZING ROAD DAMAGE REPAIR

PENGARUH PENGGUNAAN ASPAL KARET ALAM PADAT PADA LASTON AC\u002DWC TERHADAP KONDISI CUACA EKSTREM Image
Journal article

PENGARUH PENGGUNAAN ASPAL KARET ALAM PADAT PADA LASTON AC-WC TERHADAP KONDISI CUACA EKSTREM

ANALISIS DAMPAK LALU LINTAS AKIBAT DISRUPSI PADA SAAT ACARA BESAR DENGAN MENGGUNAKAN MODEL SIMULASI MIKRO Image
Journal article

ANALISIS DAMPAK LALU LINTAS AKIBAT DISRUPSI PADA SAAT ACARA BESAR DENGAN MENGGUNAKAN MODEL SIMULASI MIKRO

PENGARUH PENGGUNAAN ASPAL KARET ALAM PADAT PADA LASTON AC\u002DWC TERHADAP KONDISI CUACA EKSTREM Image
PENGARUH PENGGUNAAN ASPAL KARET ALAM PADAT PADA LASTON AC\u002DWC TERHADAP KONDISI CUACA EKSTREM Image
Journal article

PENGARUH PENGGUNAAN ASPAL KARET ALAM PADAT PADA LASTON AC-WC TERHADAP KONDISI CUACA EKSTREM

ANALISIS DAMPAK LALU LINTAS AKIBAT DISRUPSI PADA SAAT ACARA BESAR DENGAN MENGGUNAKAN MODEL SIMULASI MIKRO Image
ANALISIS DAMPAK LALU LINTAS AKIBAT DISRUPSI PADA SAAT ACARA BESAR DENGAN MENGGUNAKAN MODEL SIMULASI MIKRO Image
Journal article

ANALISIS DAMPAK LALU LINTAS AKIBAT DISRUPSI PADA SAAT ACARA BESAR DENGAN MENGGUNAKAN MODEL SIMULASI MIKRO

Most Viewed
KAJIAN BATASAN NILAI PENETRASI, TITIK LEMBEK DAN INDEKS PENETRASI ASPAL YANG SESUAI DENGAN KELAS KINERJA ASPAL UNTUK PERKERASAN JALAN DI INDONESIA Image
Journal article

KAJIAN BATASAN NILAI PENETRASI, TITIK LEMBEK DAN INDEKS PENETRASI ASPAL YANG SESUAI DENGAN KELAS KINERJA ASPAL UNTUK PERKERASAN JALAN DI INDONESIA

Selama ini terdapat tiga jenis spesifikasi aspal yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menentukan baik-tidaknya mutu aspal yang akan digunakan pada perkerasan jalan. Ketiga spesifikasi tersebut yaitu spesifikasi berdasarkan kelas penetrasi (Penetration Graded), spesifikasi berdasarkan kelas kekentalan (Viscosity Graded), dan spesifikasi berdasarkan kelas kinerja (Performance Graded). Pada spesifikasi berdasarkan kelas penetrasi dan kelas kekentalan tidak terdapat persyaratan yang mengakomodir kondisi iklim di lapangan tempat aspal digunakan. Akibatnya tidak ada perbedaan persyaratan aspal untuk daerah yang beriklim tropis (seperti di Indonesia) dengan daerah yang beriklim lainnya. Padahal jelas kondisi iklim (terutama temperatur udara) sangat mempengaruhi karakteristik aspal. Hal ini berbeda dengan spesifikasi berdasarkan kelas kinerja yang mengklasifikasikan aspal berdasarkan temperatur maksimum rata-rata dan temperatur minimum rata-rata di lapangan tempat aspal digunakan. Berdasarkan spesifikasi ini tampak perbedaan karakteristik aspal yang diperlukan untuk daerah yang beriklim tropis dengan untuk daerah yang beriklim bukan tropis. Karena berbagai hal, Indonesia belum dapat menerapkan spesifikasi aspal berdasarkan kelas kinerja dan masih menggunakan spesifikasi aspal kelas penetrasi. Mengingat mengakomodir kondisi iklim di lapangan juga sangat penting dalam menetapkan karakteristik aspal yang dibutuhkan, maka pada tulisan ini akan disampaikan hasil kajian hubungan antara spesifikasi kelas kinerja dengan spesifikasi kelas penetrasi.
ESTIMASI KETIDAKPASTIAN PENGUKURAN DALAM PENGUJIAN KUAT TEKAN BETON Image
Journal article

ESTIMASI KETIDAKPASTIAN PENGUKURAN DALAM PENGUJIAN KUAT TEKAN BETON

Perbedaan metoda evaluasi ketidakpastian antara produsen dan konsmen dapat menyebabkan penolakan satu paket komoditi perdagangan karena perbedaan hasil perhitungan ketidakpastian antara pihak produsen dan konsumen. Dalam era pasar global diperlukan metode untuk mengevaluasi dan menyatakan ketidakpastian yang dapat diterima di seluruh dunia sehingga pengukuran yang dilakukan dapat dibandingkan dengan mudah. Kajian ini menjelaskan prinsip evaluasi ketidakpastian bagi laboratorium penguji dan kalibrasi untuk memenuhi persyaratan SNI-19-17025-2000 tentang “Persyaratan Umum Kompetensi Laboratorium Penguji dan Kalibrasiâ€. Metode evaluasi ketidakpastian pengukuran yang dijelaskan dalam kajian ini sesuai dengan ISO “Guide to the Expression of Uncertainty in Measurementâ€.
EVALUASI KINERJA JEMBATAN INTERCHANGE BETON DENGAN ANALISIS RIWAYAT WAKTU TIDAK LINEAR Image
Journal article

EVALUASI KINERJA JEMBATAN INTERCHANGE BETON DENGAN ANALISIS RIWAYAT WAKTU TIDAK LINEAR

PENGARUH PEMBANGUNAN TOL SOLO\u002DYOGYA TERHADAP KINERJA SIMPANG BERSINYAL Image
Journal article

PENGARUH PEMBANGUNAN TOL SOLO-YOGYA TERHADAP KINERJA SIMPANG BERSINYAL

EVALUASI KINERJA JEMBATAN INTERCHANGE BETON DENGAN ANALISIS RIWAYAT WAKTU TIDAK LINEAR Image
EVALUASI KINERJA JEMBATAN INTERCHANGE BETON DENGAN ANALISIS RIWAYAT WAKTU TIDAK LINEAR Image
Journal article

EVALUASI KINERJA JEMBATAN INTERCHANGE BETON DENGAN ANALISIS RIWAYAT WAKTU TIDAK LINEAR

PENGARUH PEMBANGUNAN TOL SOLO\u002DYOGYA TERHADAP KINERJA SIMPANG BERSINYAL Image
PENGARUH PEMBANGUNAN TOL SOLO\u002DYOGYA TERHADAP KINERJA SIMPANG BERSINYAL Image
Journal article

PENGARUH PEMBANGUNAN TOL SOLO-YOGYA TERHADAP KINERJA SIMPANG BERSINYAL

Suggested For You
HASIL PEMURNIAN ASBUTON LAWELE SEBAGAI BAHAN PADA CAMPURAN BERASPAL UNTUK PERKERASAN JALAN Image
Journal article

HASIL PEMURNIAN ASBUTON LAWELE SEBAGAI BAHAN PADA CAMPURAN BERASPAL UNTUK PERKERASAN JALAN

Produk aspal minyak dalam negeri per tahun sekitar 650.000 ton, sedangkan kebutuhan aspal untuk pembangunan dan pemeliharaan jalan sekitar 1,2 juta ton per tahun. Hal ini menyebabkan dilakukannya impor aspal dari beberapa negara, sementara kita punya aspal alam yang dikenal dengan Asbuton dengan perkiraan depositnya antara 200 juta ton sampai 600 juta ton yang belum termanfaatkan secara optimal. Asbuton ini mengandung bitumen sekitar 20% dan mineral 80%. Melihat sumber alam Asbuton yang depositnya begitu banyak, serta gu na memenuhi kekurangan aspal di Indonesia, maka dikembangkan produk Asbuton baru yang disebut â€Asbuton Murniâ€. â€Asbuton Murni†ini merupakan hasil ekstraksi dari Asbuton Lawele sampai didapat aspal murni, dimana kandungan mineralnya dapat dikatakan sudah tidak ada lagi atau lebih kecil dari 1 %. Asbuton Murni berbentuk kental seperti aspal minyak pen 60 yang sering kita lihat, dimana bisa dikirim dalam bentuk drum maupun dalam bentuk curah. Dengan demikian penggunaannya pun mudah sebagai mana aspal minyak lainnya. Produk Asbuton Murni ini berbeda dengan produk produk Asbuton sebelumnya, dimana produk produk sebelumnya umumnya berbentuk butir yang masih mengandung kadar mineral sebagaimana adanya dilapangan yaitu sekitar 80%. Efektifitas aspal yang ada pada produk Asbuton butir pada campuran beraspal ( hot mix ataupun cold mix ) masih dipertanyakan, karena sulitnya aspal tersebut keluar dari butiran asbuton dan berfungsi menyelimuti agregat sebagai mana halnya pada aspal minyak. Produk Asbuton Murni mempunyai sifat sifat yang baik, dilihat dari hasil pengujian fisiknya seperti penetrasi, titik lembek, kelarutan, daktilitas, kehilangan berat dengan Thin Film Oven Test, serta nilai Penetrasi Index yang tinggi ( + 0,144 ) dibanding aspal minyak konvensional sekitar – 1,127 sehingga sangat cocok untuk lalu lintas berat dan daerah dengan temperatur tinggi seperti Indonesia. Hasil pengujian campuran beraspal panas ( hot mix ) menggunakan Asbuton Murni, juga memperlihatkan kesuperioran dibandingkan dengan campuran hot mix yang sama tetapi menggunakan aspal minyak konvensional pen 60. Kelebihan dari campuran beraspal panas menggunakan Asbuton Murni ialah mempunyai Stiffness Modulus yang tinggi untuk setiap temperatur pengujian sehingga penyebaran beban lalu lintas ke tanah dasar menjadi lebih baik; ketahanan terhadap deformasi permanen yang lebih baik, ditunjukkan dengan nilai Stabilitas dinamis yang lebih tinggi ataupun deformasi akibat beban berulang yang lebih kecil; serta ketebalan lapisan tambah yang lebih tipis sekitar 15% sampai 25 % dibanding keperluan ketebalan lapis tambah dari campuran beraspal panas dengan menggunakan aspal konvensional pen 60 untuk berbagai besar beban lalu lintas rencana, sehingga terjadi penghematan yang cukup berarti.
Read more articles