Recently Published
Most Viewed
Urban Heat Island dan Upaya Penanganannya Image
Conference paper

Urban Heat Island dan Upaya Penanganannya

Fenomena urban heat island (UHI) merupakan suatu fenomena yang banyak dikaji oleh para pengkaji iklim di dunia, termasuk di Indonesia. Fenomena ini ditandai dengan semakin meningkatnya suhu kawasan pusat kota dibandingkan dengan kawasan di sekitarnya. Berdasarkan beberapa penelitian diketahui bahwa fenomena ini merupakan salah satu sumber utama yang menyebabkan terjadinya peningkatan suhu bumi atau pemanasan global (Tursilowati, 2012). Fenomena ini terus meningkat seiring dengan terjadinya urbanisasi dan pertumbuhan kota. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya seperti pengadaan green open space (GOS), dinding putih atau atap putih bagi rumah dan kantor, roof gorden, dan lain-lain. Hal tersebut dilakukan untuk menekan laju peningkatan fenomena tersebut.
Analisis Pertumbuhan Mencit (Mus Musculus L.) ICR dari Hasil Perkawinan Inbreeding dengan Pemberian Pakan AD1 dan AD2 Image
Conference paper

Analisis Pertumbuhan Mencit (Mus Musculus L.) ICR dari Hasil Perkawinan Inbreeding dengan Pemberian Pakan AD1 dan AD2

Penelitian ini dilakukan untuk mengukur pertumbuhan berat badan mencit (Mus musculus L.)dari perkawinan Inbreeding dengan pemberian pakan AD1 dan AD2. Jenis penelitian tersebut yaitu penelitian eksperimental yang menguji pertumbuhan Litter size, bobot prasapih, bobot sapih, pertambahan bobot badan, dan konsumsi pakan sebagai variabel terikat dan perkawinan inbreeding sebagai variabel bebas. Tahap penelitian yaitu penggunaan mencit (Mus musculus L.) 6 ekor jantan dan 6 ekor betina dewasa. Mencit betina berumur 56 hari dengan rataan bobot 24,00 g/ekor dan mencit jantan berumur 56 hari yang digunakan untuk mengawini betina dengan rataan bobot 26,00 g/ekor. Masing-masing 3 pasang untuk perlakuan AD1 dan 3 pasang untuk perlakuan AD2. Pakan yang digunakan pada penelitian ini yaitu pakan AD1 yang mengandung air 13,5%, protein kasar min 20,5%, lemak kasar min 7%, serat kasar max 5%, abu max 7%, calcium 0,9 dan 1,2%, phosphor 0,7 dan 0,9%, mengandung antibiotika dan Coccidiostat. Sedangkan AD2 mengandung air 13,5%, protein kasar min 17%, lemak kasar min 7%, serat kasar max 6%, abu max 7%, kalsium 0,9 dan 1,2%, fosfor 0,7 0,9% dan mengandung antibiotika. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa Liter size, bobot sapih, bobot badan dan konversi pakan tidak ada kecenderungan terhadap pertumbuhan bobot badan mencit (Mus musculus L.) dengan pemberian pakan AD1 dan AD2. Sedangkan bobot prasapih memberikan adanya kecenderungan terhadap pertumbuhan bobot badan mencit dengan pemberian pakan AD1 dan AD2.
Suggested For You
Efektivitas Salep Ekstrak Ekstrak Daun Sirsak(Annona Muricata L.) pada Mencit yang Terinfeksi Bakteri Staphylococcus Aureus Image
Conference paper

Efektivitas Salep Ekstrak Ekstrak Daun Sirsak(Annona Muricata L.) pada Mencit yang Terinfeksi Bakteri Staphylococcus Aureus

Sirsak (A. muricata L.) merupakan salah satu tanaman spesies familia Annonaceae yang telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional di tanah air dan di berbagai Negara. Salah satu manfaatnya sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas salep ekstrak daun sirsak pada luka yang terinfeksi bakteri Staphylococcus aureus dan untuk mengetahui perbedaan efektivitas salep ekstrak daun sirsak sebagai antibakteri dengan konsentrasi 10%, 15% dan 30%. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen. Subjek penelitian berupa mencit yang dilakukan sebanyak 5 perlakuan yaitu kontrol negatif, kontrol positif, salep ekstrak daun sirsak 10%, salep ekstrak daun sirsak 20% dan salep ekstrak daun sirsak 30% yang diujikan dengan membuat luka infeksi dengan panjang luka yang dibuat 1 cm. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kimia dan Laboratorium Biologi FMIPA Universitas Negeri Makassar. Hasil penelitian dan hasil analisis statistik menunjukkan bahwa salep ekstrak daun sirsak 15% dan 30% paling efektif menyembuhkan infeksi bakteri S. aureus dan bakteri E. coli. Hal ini ditunjukkan dengan waktu penyembuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan konsentrasi 10%. Sedangkan dari hasil analisis One way anava menunjukkan bahwa ada perbedaan bermakna antara konsentrasi 10%, 15% dan 30% (P value < α atau P < 0.05) yang berarti bahwa konsentrasi salep mempengaruhi waktu penyembuhan infeksi bakteri Staphylococcus aureus.
Purifikasi Antigen Outer Membrane Protein (OMP) dari Isolat Salmonella Enterica Serovar Typhi Image
Conference paper

Purifikasi Antigen Outer Membrane Protein (OMP) dari Isolat Salmonella Enterica Serovar Typhi

Penelitian ini bertujuan mendapatkan protein murni dari antigen OMP isolat Salmonella enterica serovar typhi (S. typhi) dengan metode fraksinasi amonium sulfat dan dialisis. Fraksinasi dilakukan dengan variasi konsentrasi ammonium sulfat 10–20%; 20-40%; 40–60%, 60–80%, dan 80–100%. Kemudian filtrat dari setiap konsentrasi fraksinasi tersebut dilanjutkan dengan metode dialisis menggunakan membran selofan, kemudian diukur kadar proteinnya dengan metode Lowry. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kadar protein OMP tertinggi diperoleh sebesar 1, 641 mg/ml yaitu pada konsentrasi 20-40%.