Baru saja dipublikasikan
Most Viewed
Kalimat Anomali dan Kedudukannya dari Sudut Pandang Pragmatik Image
Journal article

Kalimat Anomali dan Kedudukannya dari Sudut Pandang Pragmatik

Di dalam berbagai bahasa tentu ada kalimat-kalimat yang menyimpangdi lihat dari keselarasan kategori dan makna elemen pembentuknya. Kalimat-kalimat seperti ini dalam istilah linguistik dikenal dengan sebutan kalimat anomali (anomalous sentence) (Kridalaksana, 1993, 14; Fromkin & Rodman. 1983, 177). Hal yang menarik dipermasalahkan di sini adalah bahwa kalimat anomali (nonsense) tidak pernah di utarakan atau diucapkan di dalam pemakaian bahasa yang sebenarnya. Kalimat-kalimat itu diciptakan dalam konteks yang abstrak, tidak jelas siapa pembicaranya, dengan s1apa kalimat itu diutarakan, kapan kalimat itu diutarakan, dan sebagainya. Abstraknya konsepsi data yang melatarbelakangi teori Chomsky.
Pemakaian Bentuk\u002Dbentuk Kebahasaan secara \u0022Opsional\u0022 dan Pemakaian Kata Mubazir Image
Journal article

Pemakaian Bentuk-bentuk Kebahasaan secara "Opsional" dan Pemakaian Kata Mubazir

Pemakaian bahasa secara "opsional" adalah pemakaian yang artinya bisa dipakai bisa tidak (Kridalaksana 1983:212). Istilah "opsional" dipakai untuk menamai tagmem yang hanya muncul pada beberapa kontruksi (Cook, 1969:17). Kehadiran suatu bentuk kebahasaan tidak menambah kejelasan dalam pemakaian bahasa secara opsional, sebaliknya ketidakhadiran suatu bentuk kebahasaan tidak mengurangi kejelasan informasi.
Suggested For You
Nilai\u002DNilai Tradisi Lisan dalam Budaya Jawa Image
Journal article

Nilai-Nilai Tradisi Lisan dalam Budaya Jawa

Dalam rangka pembinaan kebudayaan daerah, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional yang bekerja sama dengan Kanwil Depdikbud Propinsi DIY menyelenggarakan diskusi dan peragaan tradisi lisan. Realisasi program-program ini merupakan amanat yang dituangkan dalam UUD 1945 pasal 32 yang menyatakan bahwa pembinaan dan pengembangan kebudayaan daerah bertujuan untuk mengembangkan kebudayaan nasional Indonesia. Juga diamanatkan bahwa pembinaan di bidang kebudayaan diarahkan untuk memberikan wawasan budaya dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap dimensi kehidupan bermasyarakat, untuk meningkatkan harkat dan martabat jatidiri dan kepribadian bangsa. Berkaitan dengan program itu, artikel ini akan memaparkan gagasan-gagasan tentang makna nilai-nilai budaya daerah yang sekiranya dapat menyumbang terbentuknya jatidiri bangsa atau identitas bangsa Indonesia dalam wacana globalisasi hubungan-hubungan antarbangsa-bangsa di dunia. Sesuai dengan arah tema itu, pembahasan dalam tulisan ini dipusatkan pada tradisi lisan. Tradisi lisan di Jawa merupakan salah satu cara bagaimana pengetahuan budaya diwariskan dari generasi tua kepada generasi muda, seperti dongeng anak-anak permainan anak-anak, tembang macapat, ungkapan peribahasa, dan juga pentas wayang kulit purwa. Dalam artikel ini hanya akan dibahas nilai-nilai budaya yang tercantum dalam idiom-idiom ungkapan Jawa dan pentas wayang kulit purwa , yang sekiranya dapat diangkat sebagai salah satu unsur budaya pembentuk kebudayaan nasional. Harapannya adalah agar nilai-niali filosofis dan etika-moral yang terkandung dalam tradisi lisan budaya Jawa itu dapat direvitalisasi dan diintegrasikan dalam konstelasi budaya nasional melalui pendidikan budi pekerti dan pentas wayang.
Baca artikel lainnya